Pelanggan kancut

Wednesday, June 7, 2017

Balada solat jumat

Senyuman kelicikan.


Wajar klo anak kecil itu petakilan. Gue paham. Klo kata dokter, anak kecil itu petakilan sebagai apresiasi dari sifat kreatifnya doi. Cuma petakilan anak gue kadang ga lihat kondisi dan situasi sekitar. Yang dimana kadang ngebuat gue pengen sujud tobat klo ngeliat doi petakilan.

Salah satu contohnya itu pas gue lagi pengen solat jumat bareng Bokap. Sebagai seorang kakek, wajar sekali Bokap gue pengen ngajak cucunya kemana-mana. Apalagi ini cucu pertamanya. Sangat dimanja sekali. Tapi ngajak anak gue solat jumat??? Big big no bagi gue. Bukan ga mau ngajak anak gue ke masjid. Tapi belum saatnya. Toh dirumah anak gue juga sering ngikutin gue solat. Cuma klo untuk di masjid. Belum, belum saatnya sodarah-sodarah. Tapi ga begitu dengan Bokap. Doi tetep kekeuh dengan pendirian dia (baca: ngebuat gue mencret jagain anak di masjid).

"Udah ajak aja gakpapa. Ga bakal ganggu kok. Udah ngerti dia Ja." Ucap Bokap meyakinkan gue buat ngajak cucunya solat jumat ke masjid.

"ntar klo dia lari-larian gimana? Repot ah Pak." Bales gue.

Bokap masang tampang teduh kaya A'a gym lagi tausiah, "Ngga. Nanti kita liatin aja. Pasti nurut dia. Pinter dia itu Ja. Pasti paham lah dia."

kata "nanti kita liatin aja" diatas memiliki arti "elo liatin aja. Klo dia pecicilan. Anggep aja kita gak kenal.". Seperti itu kira-kira.

well, pada akhirnya, sebanyak apapun argumen yang gue utarakan. Tetep anak gue dibawa solat jumat.

Sesampainya di masjid. Anak gue masih menunjukan gejala yang wajar. Sampai si penceramah mulai menaiki mimbar dan berkhotbah. Disini anak gue mulai menunjukan sikap "ok, let's start the party!!".

"Ba, pulang yuk. Solat dirumah aja yuk." Doi tiba-tiba nyeletuk ke gue. Gue menempelkan telunjuk ke bibir. Isyarat buat nyuruh dia diem. 

"Ayo Ba pulaaaaannngg..." Lanjut doi sambil goyang-goyangin tangan gue. "Klo lagi dengerin ceramah ga boleh ngomong yaa. Nanti dimarah sama Allah lho." Gue sedikit berbisik. 

"Itu kamu kok ngomong?" Saut anak gue. "Lah iya yak? Bloon bener gue." Ucap gue dalam hati. "Eh, nanti ada pemadam lho kesini. Nanti kita kenalan ya." Gue mengalihkan pembicaraan dengan sesuatu yang anak gue suka. Dia sedikit berpikir, "emang pemadam solat juga?". "Iya dong. Tapi kamu diem dulu ya. Nanti klo berisik pemadamnya ga mau dateng." Gue berusaha menyudahi. Gue melihat jamaah sekitar udah mulai masang tampang pengen nyambit sendal ke muke gue. Bokap yang duduk sebelah gue pun mulai belaga ga kenal. Asem.

Untuk beberapa saat anak gue sedikit tenang. "Ba, aku boleh tiduran disini ga?" Tanya anak gue sambil nunjuk sejadah yang dia dudukin. Gue mengangguk. "Baguslah. Mudah-mudahan aja doi ketiduran. Jadi ga ganggu jamaah lain nanti pas solat." Ucap gue dalem hati. Doi rebahan disebelah gue. Dengan lembut gue usap-usap kepalanya biar doi ngantuk. Mata doi menerawang ke langit-langit masjid. "Pemadamnya udah dateng blm Ba?" Doi tiba-tiba nanya. "Kampret nih bocah inget aja lagi.." "Belum. Masih dijalan." Jawab gue spontan.

Khotbah sudah selesai. Dan ikomah mulai dikumandangkan tanda mulainya solat. Gue keringet dingin. Khawatir sesuatu yang gak gue inginkan terjadi. Anak gue masih tetap dalam posisi rebahan. "Kamu tiduran aja disitu ya. Jangan ngapa-ngapain. Baba solat dulu." Ucap gue mengingatkan.

Imam mulai mengangkat takbir. Untuk terakhir kalinya gue memberikan tatapan 'tolong jaga nama baik Baba nak' ke anak gue yang lagi rebahan. Dan gue pun memulai solat dengan perasaan gundah. Untuk pertama kalinya gue pengen solat jumat ini cepet-cepet selesai. Gue berharap imam baca ayat-ayat pendek aja.

Rakaat pertama baru dimulai. Gue udah ga khusuk. Mata gue sesekali ngelirik ke anak gue. Karena anak gue mulai menunjukan gelagat aneh.

Mata doi masih menerawang ke langit- langit masjid. Bibir doi mulai komat kamit entah ngomong apa. Seperti punya hayalan sendiri, dengan sikap yang mantab dan keinginan luhur. Hal yang gue takuti dan bikin boker disarung pun kejadian.

Doi guling-gulingan.

Yup, pemirsah. Gue ulangin. Doi. Guling. Gulingan. Ya Allah gusti.. Ampuni akuh..
Posisi doi ditengah diapit sama gue dan Bokap. Doi guling-gulingan kedepan gue. Kemudian doi guling-gulingan balik kedepan Bokap. Solat Gue udah beneran ga khusuk. Cuma gue masih bimbang mau batalin solat. Sikap gue sekarang cuma bisa pura-pura ga nganggep doi anak gue.

Seperti kurang memacu adrenalin. Kali ini anak gue bukan cuma guling-gulingan didepan gue dan bokap. Sekarang doi guling-gulingan ngelewatin jamaah lain. Semakin ekstrim. Doi guling-gulingan sampe ujung masjid. Kemudian guling balik sampe ngelewatin gue dan bokap. Ampun Tuhan..

Tragedi guling-gulingan ekstrim ini terus berlanjut sampai solat jumat selesai. Dan alhamdulillah setelah salam gue sukses ngebuat jamaah yang sederetan gue nengok ke gue semua. Bokap? Pura-pura ga kenal. Untungnya semua jamaah mengerti dengan kondisi anak gue. Ga pake doa lagi, setelah salam gue gendong anak gue dan langsung buru-buru keluar dari masjid. "Ba, pemadamnya mana Ba?" tanya doi disela gue buru-buru keluar masjid. "Kesamber gledek!" jawab gue singkat.


1 comment:

  1. BROKER TERPERCAYA
    TRADING ONLINE INDONESIA
    PILIHAN TRADER #1
    - Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
    - Sistem Edukasi Professional
    - Trading di peralatan apa pun
    - Ada banyak alat analisis
    - Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
    - Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT
    Yukk!!! Segera bergabung di Hashtag Option trading lebih mudah dan rasakan pengalaman trading yang light.
    Nikmati payout hingga 80% dan Bonus Depo pertama 10%** T&C Applied dengan minimal depo 50.000,- bebas biaya admin
    Proses deposit via transfer bank lokal yang cepat dan withdrawal dengan metode yang sama
    Anda juga dapat bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover......

    Kunjungi website kami di www.hashtagoption.com Rasakan pengalaman trading yang luar biasa!!!

    ReplyDelete